Jusuf Kalla Hadiri Pemakaman Martti Ahtisaari di Helsinki
Suasana haru menyelimuti Helsinki saat mantan wakil presiden Jusuf Kalla ikut menghadiri upacara pemakaman mantan presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, pada Jumat siang waktu setempat. Kehadiran Kalla menegaskan kembali hubungan panjang Ahtisaari dengan berbagai proses damai internasional, termasuk di Indonesia.
Ahtisaari dikenang sebagai tokoh perdamaian dunia
Dalam pidato pada upacara tersebut, Presiden Finlandia Sauli Niinisto menyebut Ahtisaari sebagai sosok besar bagi negaranya dan bagi dunia. “Dia adalah orang Finlandia yang hebat, penerima Hadiah Nobel Perdamaian. Dia memberi cap pada sejarah Finlandia dan sejarah internasional,” kata Niinisto, seperti dikutip dalam rilis pers yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Niinisto juga menyoroti kiprah Ahtisaari di Indonesia, Kosovo, Namibia, dan sejumlah wilayah lain yang menurutnya meninggalkan jejak mendalam bagi banyak orang. Pernyataan itu disampaikan di ujung upacara gereja yang juga diisi peletakan karangan bunga dan pertunjukan musik dari komponis klasik Finlandia, Jean Sibelius.
Diiringi ratusan tamu dan tokoh internasional
Upacara pemakaman Ahtisaari dihadiri lebih dari 800 pejabat dan tamu undangan. Selain Jusuf Kalla, hadir pula Presiden Kosovo Vjosa Osmani, Presiden Namibia Hage Geingob, mantan presiden Tanzania Jakaya Kikwete, mantan ketua tim juru runding Indonesia Hamid Awaluddin, serta mantan pemimpin Gerakan Aceh Merdeka Malik Mahmud.
Prosesi kebaktian gereja dan pemakaman itu disiarkan secara nasional. Ratusan warga berdiri di sepanjang rute iring-iringan dari katedral melewati pusat kota Helsinki menuju pemakaman Hietaniemi, tempat Ahtisaari dimakamkan bersama sejumlah presiden Finlandia lainnya.
Warisan diplomasi dari Indonesia hingga Kosovo
Ahtisaari, penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2008, wafat pada 16 Oktober lalu dalam usia 86 tahun. Namanya lekat dengan berbagai misi penyelesaian konflik, mulai dari membantu kesepakatan penarikan Serbia dari Kosovo pada akhir 1990-an, mendukung upaya kemerdekaan Namibia pada 1980, hingga mendorong otonomi khusus Aceh pada 2005.
Ia juga terlibat dalam proses perdamaian Irlandia Utara pada 1990 dan memantau perlucutan senjata Tentara Republik Irlandia (IRA). Setelah itu, Ahtisaari mendirikan Prakarsa Manajemen Krisis (CMI) di Helsinki untuk mencegah dan menyelesaikan konflik kekerasan lewat dialog dan mediasi informal. Pada Mei 2017, ia mundur sebagai ketua, namun tetap menjadi penasihat organisasi tersebut. Pada 2021, Ahtisaari dinyatakan menderita Alzheimer stadium lanjut.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

