Prabowo dan Jokowi Masih Saling Mengunci Pengaruh di Masa Transisi Menuju Pelantikan Oktober
Menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih pada Oktober 2024, dinamika politik di lingkar kekuasaan belum sepenuhnya mereda. Nama Prabowo Subianto tetap berada di dua posisi yang sama-sama strategis: sebagai Menteri Pertahanan dalam kabinet berjalan, sekaligus presiden terpilih yang akan segera dilantik bersama Gibran Rakabuming Raka. Situasi inilah yang membuat masa transisi pemerintahan menjadi ruang tarik-menarik pengaruh antara Prabowo dan Presiden Joko Widodo.
Prabowo di Persimpangan Jabatan
Prabowo hingga kini masih aktif menjabat Menteri Pertahanan. Namun, dalam konteks pemerintahan baru yang akan dibentuk, muncul kemungkinan ia mundur dari kursi tersebut agar fokus pada penyusunan kabinet mendatang. Langkah itu dinilai wajar mengingat beban politik dan administratif yang akan diemban setelah resmi memimpin negara.
Prabowo-Gibran dijadwalkan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI pada Oktober 2024 tanpa hambatan. Di titik ini, perhatian publik tidak hanya tertuju pada agenda pelantikan, tetapi juga pada bagaimana transisi kekuasaan dijalankan, termasuk siapa yang masih memegang kendali atas keputusan-keputusan penting sebelum masa jabatan Jokowi berakhir.
Jokowi Dinilai Tak Akan Mencopot Prabowo
Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto, menilai Jokowi kemungkinan tidak akan mencopot Prabowo dari jabatan Menteri Pertahanan. Menurut dia, posisi Prabowo saat ini unik: secara de facto sudah menjadi presiden terpilih, tetapi secara administratif masih menjabat sebagai menteri dalam kabinet Jokowi.
Di sisi lain, Jokowi secara de jure masih memegang kursi Presiden hingga 20 Oktober 2024. Karena itu, masa transisi menjelang Oktober disebut sebagai periode sensitif, ketika kepentingan politik masing-masing pihak masih sama-sama dijaga. Hari menilai Jokowi tidak akan mengambil langkah ekstrem dengan mengganti Menhan di ujung masa jabatannya.
Tarik-Menarik Koalisi Menjelang Kabinet Baru
Hari juga melihat bahwa situasi ini memperlihatkan adanya persaingan mempertahankan pengaruh dan koalisi antara Jokowi dan Prabowo. Bagi pemerintahan yang akan datang, pembentukan kabinet semestinya berjalan dengan arah yang ditentukan oleh presiden terpilih, bukan oleh bayang-bayang kekuasaan lama.
Ia berharap proses penyusunan kabinet Prabowo tidak ikut dipengaruhi oleh Jokowi. Menurutnya, itu justru menjadi salah satu tantangan awal yang harus dihadapi pemerintahan baru agar dapat berdiri dengan mandat politiknya sendiri dan tidak tersandera oleh kepentingan masa transisi.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

