Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mencatat kinerja penerimaan pajak pada semester I 2025 tetap bergerak naik, meski ekonomi global masih dibayangi perlambatan. Rata-rata penerimaan pajak selama periode itu mencapai Rp181,3 triliun per bulan, dengan total penerimaan pajak bruto sebesar Rp1.087,8 triliun. Angka tersebut tumbuh 2,3 persen secara tahunan atau year-on-year.
Penerimaan Pajak Masih Jadi Penopang Utama Negara
Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Bimo Wijayanto, menyebut tren penerimaan pajak terus menunjukkan penguatan dalam lima tahun terakhir. Pada semester pertama tahun ini, kontribusi pajak terhadap total penerimaan negara mencapai 69,23 persen. Porsi itu naik hampir 1,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Data tersebut menegaskan bahwa pajak masih menjadi tulang punggung utama penerimaan negara. Di tengah tekanan ekonomi global, capaian ini memberi sinyal bahwa basis penerimaan fiskal masih terjaga dan belum kehilangan momentumnya.
Kontributor Terbesar Masih Datang dari Pajak Utama
Dalam struktur penerimaan neto, sejumlah pos pajak utama masih menjadi penyumbang terbesar. Pajak Penghasilan atau PPh Badan, PPh orang pribadi, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPnBM), serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) disebut menopang penerimaan pajak neto yang tercatat sebesar Rp837,79 triliun per bulan.
Meski ada penurunan realisasi neto pada beberapa pos seperti PPh Badan, PPN, dan PPnBM, Bimo tetap menyampaikan optimisme. Ia menilai penerimaan pajak masih berpeluang membaik hingga akhir 2025, seiring harapan pemulihan ekonomi yang terus terbuka.
Harapan Hingga Akhir Tahun
Dengan tren semester pertama yang masih positif, otoritas pajak melihat ruang perbaikan masih ada di paruh kedua tahun ini. Sinyal tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan menjaga stabilitas fiskal sekaligus merespons dinamika ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

