Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa surplus neraca perdagangan pada semester 1 tahun 2025 mencapai 19,48 miliar dolar AS. Surplus ini didorong oleh komoditas non-migas yang mencapai 28,31 miliar dolar AS, sementara komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 8,83 miliar dolar AS. Beberapa komoditas yang mendukung surplus tersebut antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Di sisi lain, defisit utama berasal dari komoditas mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik.
Tiga negara mitra dagang yang memberikan surplus terbesar adalah Amerika Serikat, India, dan Filipina. BPS juga mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 4,10 miliar dolar AS pada bulan Juni 2025. Surplus ini didukung oleh komoditas non-migas seperti lemak dan minyak hewani, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, neraca perdagangan komoditas migas mengalami defisit, dengan minyak mentah dan hasil minyak menjadi penyumbang utama defisit.
Pada bulan Juni 2025, nilai ekspor mencapai 23,43 miliar dolar AS, sedangkan impor sebesar 19,33 miliar dolar AS. Tiga negara yang memberikan surplus terbesar adalah Amerika Serikat, India, dan Filipina, sementara tiga negara dengan defisit terdalam adalah Tiongkok, Australia, dan Brasil. Data ini memberikan gambaran mengenai kinerja neraca perdagangan Indonesia dan hubungannya dengan negara mitra dagang terkait komoditas yang diekspor dan diimpor. Harap mengonfirmasi keabsahan informasi dan data dengan sumber yang direkomendasikan.

