Lapisan karang keras di Great Barrier Reef di Australia mengalami penurunan drastis, kembali ke tingkat rata-rata jangka panjang setelah mencapai rekor tertinggi. Laporan terbaru dari Institut Ilmu Kelautan Australia (Australian Institute of Marine Science/AIMS) menyoroti adanya volatilitas dalam kesehatan karang di terumbu terbesar di dunia tersebut.
Penurunan lapisan karang ini terjadi akibat tekanan dari hawa panas yang dipicu oleh perubahan iklim, seperti pemutihan massal pada 2024, kerusakan dari badai siklon, dan wabah bulu seribu (crown-of-thorns starfish). Sejak pemantauan dimulai 39 tahun yang lalu, Great Barrier Reef telah mengalami penurunan tahunan terbesar dalam dua dari tiga wilayahnya.
Menurut AIMS, lapisan karang mengalami penurunan sebesar 25 persen di area utara, hampir 14 persen di area tengah, dan sekitar sepertiga di area selatan. Terumbu karang yang didominasi oleh spesies Acropora, rentan terhadap tekanan hawa panas, badai siklon, dan serbuan bulu seribu, menjadi salah satu yang paling terdampak.
Hasil survei tahun 2025 oleh LTMP AIMS menunjukkan bahwa sebagian besar terumbu karang memiliki lapisan karang keras sekitar 10-30 persen, dengan beberapa terumbu mencatat penurunan lebih dari 75 persen. CEO AIMS, Selina Stead, menyatakan bahwa temuan ini secara konsisten menunjukkan dampak signifikan dan cepat dari pemanasan laut akibat perubahan iklim terhadap terumbu karang di Great Barrier Reef.

