Polemik Seleksi PAW Kepala Desa Citeureup: Tiga Lolos, Warga Soroti Dugaan Nepotisme
Seleksi Pergantian Antar Waktu (PAW) Kepala Desa Citeureup, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, memantik perdebatan di tengah warga. Dari sembilan orang yang mengikuti proses seleksi, hanya tiga kandidat yang dinyatakan lolos. Yang membuat situasi semakin panas, ketiganya disebut merupakan saudara kandung. Kondisi ini langsung memunculkan dugaan adanya praktik yang tidak sehat dalam proses penjaringan calon kepala desa.
Kecurigaan Warga Menguat
Bagi sebagian warga, hasil seleksi tersebut bukan sekadar soal siapa yang lolos dan siapa yang tidak. Yang dipersoalkan adalah apakah prosesnya benar-benar berjalan adil, terbuka, dan bebas dari kepentingan keluarga tertentu. Dugaan nepotisme pun menyeruak karena hasil akhir dinilai terlalu janggal untuk dibiarkan tanpa penjelasan yang meyakinkan.
Kritik juga diarahkan kepada kredibilitas panitia seleksi. Mereka dinilai hanya menjalankan aspek teknis dari pemilihan yang bersumber dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD), sementara tanggung jawab atas polemik yang muncul dianggap seolah-olah tidak pernah benar-benar dipegang. Di sisi lain, netralitas Kecamatan Citeureup ikut dipertanyakan karena dinilai memiliki kendali penuh atas jalannya seleksi.
Panitia dan Kecamatan Jadi Sorotan
Di lapangan, warga melihat ada ketidakseimbangan dalam pengelolaan proses PAW. Bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga soal transparansi dan sikap penyelenggara yang dianggap belum mampu menjawab keraguan publik. Ketika kontrol seleksi diduga berada di tangan kecamatan, tuntutan agar proses berlangsung netral dan terbuka pun semakin keras disuarakan.
Situasi itu makin rumit setelah gelombang penolakan dari warga terus bertambah. Sebuah petisi resmi disebut sempat diajukan, namun ditolak oleh Ketua RW dan RT di Desa Citeureup. Penolakan tersebut justru memperlebar jarak antara aspirasi masyarakat dan keputusan yang berjalan di tingkat penyelenggara.
Hasil Seleksi Memicu Pertanyaan Baru
Meski kekecewaan warga kian meluas, seleksi tetap dilaksanakan hingga akhirnya hanya tiga peserta yang dinyatakan lolos. Fakta bahwa ketiganya berasal dari satu garis keluarga membuat dugaan nepotisme semakin sulit dihindari. Bagi warga yang sejak awal menuntut proses yang bersih, hasil ini justru dianggap memperkuat kecurigaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam mekanisme PAW tersebut.
Jika tidak ada langkah korektif yang jelas, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan, polemik ini berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap Kecamatan Citeureup maupun proses pemerintahan desa secara keseluruhan. Di tengah sorotan yang terus menguat, publik kini menunggu apakah ada penjelasan resmi yang benar-benar bisa menjawab keraguan yang sudah terlanjur meluas.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

