Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan peringatan tentang dampak yang merusak bagi warga sipil di Gaza akibat intensifikasi serangan udara oleh pasukan Israel, dengan serangan terjadi rata-rata setiap delapan hingga sembilan menit. Data dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat peningkatan yang signifikan dalam operasi Israel selama 24 jam terakhir, yang berdampak besar pada penduduk sipil. Sebanyak 16.500 orang telah mengungsi dari Gaza Utara ke Gaza Selatan dalam satu hari, terutama pada Kamis. Tim bantuan telah berada di jalur pengungsian untuk memberikan bantuan pertama, dukungan psikososial, rujukan ke layanan khusus, dan informasi risiko bahan peledak kepada pengungsi yang baru. Namun, meskipun upaya tersebut telah dilakukan, ratusan ribu orang tetap tinggal di Kota Gaza dalam kondisi tidak aman. Mereka sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan karena banyak layanan penting telah ditutup atau harus direlokasi. Terkait dengan pembatasan akses bantuan oleh otoritas Israel, PBB mencatat bahwa dari 15 upaya koordinasi yang diajukan untuk mendukung warga di berbagai wilayah Gaza, hanya tujuh yang difasilitasi sepenuhnya pada hari Kamis. PBB mendesak Israel untuk memfasilitasi penuh operasi kemanusiaan, termasuk pergerakan bantuan tanpa hambatan ke Jalur Gaza. Di Tepi Barat yang diduduki, lebih dari 3.000 warga Palestina, separuh di antaranya anak-anak, telah mengungsi akibat serangan pemukim ilegal dan pembatasan akses oleh Israel sejak Oktober 2023. (Sumber: Anadolu)

