Bencana banjir dan longsor di Sumatera belakangan ini diperdebatkan karena diduga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu, termasuk korporasi besar, untuk mengalihkan perhatian publik dari kasus-kasus kejahatan lingkungan masa lalu. Narasi propaganda yang terkait dengan tokoh-tokoh seperti Ary Bakrie dan Marcella Santoso kembali mencuat dalam isu ini. Klaim juga menyebutkan bahwa penggiat media dan buzzer nasional, yang sebelumnya terlibat dalam kampanye “Indonesia Gelap,” kini mulai memfokuskan diri pada isu bencana di Sumatera. Tujuannya diduga untuk mengalihkan perhatian pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dari penyelidikan lebih lanjut terhadap kejahatan lingkungan yang diduga telah terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Isu pengalihan ini terkait dengan kasus Karhutla 2015, yang merupakan peristiwa besar yang melibatkan pembakaran hutan dan lahan secara masif. Berbagai korporasi besar seperti Grup Wilmar, Musim Mas, dan Permata Hijau diduga terlibat dalam praktik destruktif yang menyebabkan kerugian bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Kasus Karhutla 2015 diangkat kembali sebagai pengingat akan kerentanan Indonesia terhadap bencana lingkungan, dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada waktu itu menyatakan bahwa sebagian besar Karhutla disebabkan oleh pembakaran yang sengaja dilakukan untuk membersihkan lahan perkebunan sawit.

