Presiden Prabowo Subianto selalu terlibat dalam diskusi dengan para ahli dan tokoh yang memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap permasalahan yang dihadapi. Meskipun terkadang terdapat persepsi bahwa Prabowo adalah seorang presiden yang tidak suka kritik dan mengambil keputusan secara otoriter, namun sebenarnya beliau aktif berdialog dengan berbagai pihak.
Prabowo tidak hanya berdiskusi dengan akademisi dan tokoh agama, namun juga sering mendengarkan masukan dari kalangan aktivis dan mantan Menteri Luar Negeri terkait kebijakan luar negeri. Meskipun kegiatan tersebut tidak selalu diekspos secara luas oleh media, namun hal ini menunjukkan bahwa Prabowo senantiasa mencari masukan untuk mengambil keputusan yang terbaik.
Sebagai seorang mantan Komandan Kopassus di TNI Angkatan Darat, gaya komunikasi Prabowo masih terasa otoriter dan militer. Namun, di belakang layar, Prabowo aktif mendengarkan masukan dari berbagai pihak untuk mempersiapkan kebijakan yang akan diambil. Transformasi identitas ini menunjukkan bahwa Prabowo mampu beradaptasi dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Meskipun kerap dianggap sebagai presiden yang tidak suka dengan kritik, Prabowo sebenarnya terbuka untuk berdiskusi dan mendengarkan pandangan yang berbeda. Dalam perspektif Goffman, panggung depan yang otoriter yang ditunjukkan oleh Prabowo merupakan bagian dari keseluruhan pertunjukan, sedangkan di panggung belakanglah persiapan kebijakan dan komunikasi lebih detail dilakukan.
Prabowo, sebagai pemimpin Indonesia, harus menunjukkan stabilnya kepemimpinan dan ketegasan dalam mengambil keputusan. Hal ini penting untuk menjaga citra Indonesia di mata dunia internasional. Meskipun terkadang penampilan Prabowo terkesan tegas dan otoriter, namun di balik layar, beliau senantiasa mencari masukan dan pertimbangan sebelum mengambil keputusan.

