Mendikdasmen Usulkan Penambahan Anggaran Revitalisasi 60.000 Sekolah

Mendikdasmen Ajukan Tambahan Dana untuk Revitalisasi 60 Ribu Sekolah pada 2026

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mendorong penambahan anggaran revitalisasi untuk sekitar 60.000 gedung sekolah yang rusak pada 2026. Langkah ini menjadi bagian dari agenda prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat mutu pendidikan lewat perbaikan sarana dan prasarana yang selama ini masih menjadi persoalan di banyak daerah.

Revitalisasi 2025 Tuntas, Target 2026 Diperluas

Pada 2025, pemerintah disebut telah menyelesaikan revitalisasi 16.167 satuan pendidikan di seluruh Indonesia dengan capaian 100 persen. Capaian itu kemudian menjadi pijakan untuk memperluas program pada tahun berikutnya. Abdul Mu'ti menjelaskan, tambahan anggaran tengah diupayakan agar revitalisasi bisa menjangkau 60.000 satuan pendidikan lain pada 2026.

Jika usulan tersebut disetujui, maka total sekolah yang ditargetkan mendapat perbaikan pada 2026 akan melampaui 71.000 satuan pendidikan. Pemerintah menempatkan program ini bukan semata urusan bangunan, melainkan bagian dari komitmen memastikan anak-anak Indonesia belajar di lingkungan yang lebih layak, aman, dan mendukung proses belajar mengajar.

Skema Swakelola dan Dampak Ekonomi Daerah

Revitalisasi pada 2026 dirancang berjalan melalui sistem swakelola oleh masing-masing sekolah. Pelaksanaannya akan mengacu pada hasil penelitian kementerian, sehingga perbaikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan. Pola ini juga diharapkan membuat proses lebih cepat dan tepat sasaran.

Di sisi lain, program tersebut diproyeksikan memberi efek ganda bagi daerah. Selain mempercepat perbaikan fisik sekolah, kegiatan revitalisasi diyakini mampu menyerap tenaga kerja lokal dan ikut menggerakkan ekonomi setempat. Dengan begitu, manfaat program tidak berhenti pada sektor pendidikan saja, tetapi juga menyentuh aktivitas ekonomi di daerah.

Jember Jadi Sorotan karena Banyak Sekolah Rusak Berat

Bupati Jember Muhammad Fawait turut menyoroti kondisi pendidikan di wilayahnya. Kabupaten Jember, yang merupakan daerah dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Jawa Timur, disebut memiliki 1.532 gedung sekolah dalam kondisi rusak berat. Jumlah itu menjadi tantangan besar karena tidak mungkin diselesaikan hanya mengandalkan APBD.

Fawait menyampaikan bahwa pembaruan data dan kejujuran dalam pelaporan kondisi sekolah menjadi salah satu kunci agar daerahnya bisa memperoleh perhatian lebih besar dari pemerintah pusat. Berkat langkah tersebut, Jember mendapat alokasi revitalisasi terbesar sepanjang sejarahnya pada 2025. Ia berharap dukungan serupa terus berlanjut agar perbaikan infrastruktur pendidikan berjalan lebih cepat sekaligus memberi dorongan bagi perekonomian daerah.

Program revitalisasi sekolah pada akhirnya dipandang sebagai investasi jangka panjang: memperbaiki ruang belajar, memperkuat kualitas layanan pendidikan, dan menghadirkan manfaat ekonomi di tingkat lokal secara bersamaan.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

Hot Topics

Related Articles