Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, melaporkan kondisi utang Indonesia kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta. Menurut laporan tersebut, rasio utang luar negeri Indonesia saat ini sebesar 29,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Airlangga menekankan bahwa angka ini masih tergolong rendah dan hanya mencakup utang luar negeri pemerintah, belum termasuk utang dalam negeri. Jika semua utang pemerintah digabungkan, rasio utang Indonesia mencapai sekitar 40 persen terhadap PDB.
Selain itu, Airlangga juga melaporkan bahwa cadangan devisa Indonesia mencapai sekitar 151,9 miliar dolar AS, mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Menanggapi laporan tersebut, Prabowo mempertanyakan angka rasio utang dan menilai bahwa Indonesia masih memiliki rasio utang yang relatif rendah dibandingkan dengan negara lain. Airlangga juga menyampaikan bahwa realisasi pembiayaan utang pemerintah hingga akhir Februari 2026 mencapai Rp185,3 triliun, setara dengan 22,3 persen dari target pembiayaan utang dalam APBN 2026. Juda Agung dari Wakil Menteri Keuangan menegaskan bahwa pembiayaan anggaran tahun 2026 terjaga baik dan berada dalam batas yang terkendali.

