Pemerintah Prancis telah mengeluarkan paket bantuan darurat senilai 70 juta euro untuk melindungi industri utama negara dari dampak harga energi yang naik karena konflik di Timur Tengah. Sektor transportasi, pertanian, dan perikanan menjadi fokus utama bantuan ini guna menjaga kemandirian pangan dan kelancaran aktivitas ekonomi nasional.
Dana sebesar 50 juta euro dialokasikan untuk perusahaan transportasi jalan raya kecil dan menengah dalam bentuk subsidi sebesar 0,20 euro per liter bahan bakar. Sektor pertanian akan mendapat pembebasan pajak atas bahan bakar diesel selama satu bulan, sedangkan industri perikanan mendapat alokasi dana lima juta euro untuk menutup lonjakan biaya bahan bakar.
Pemerintah juga menawarkan skema tambahan berupa penangguhan pajak dan jaminan sosial tanpa penalti, serta pinjaman “Boost Fuels” hingga 50.000 euro bagi usaha kecil yang terdampak. Namun, kebijakan ini hanya berlaku sementara hingga April 2026.
Keputusan ini diambil karena ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang menyebabkan lebih dari 1.340 kematian. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel dan negara lain di kawasan, mengganggu stabilitas pasar global dan jalur penerbangan.
Gangguan di Selat Hormuz sejak awal Maret juga memperparah situasi dengan hambatan yang menyebabkan biaya pengiriman dan harga minyak dunia naik. Ini menyebabkan Prancis mengambil langkah-langkah darurat untuk mengatasi gejolak harga energi.

