Tingginya harga bahan bakar mempengaruhi persepsi konsumen terhadap biaya operasional kendaraan pribadi. Teknologi hybrid menjadi solusi yang menarik perhatian, terutama dengan klaim Chery tentang biaya mobilitas hanya Rp500 ribuan per bulan berkat sistem Chery Super Hybrid (CSH) pada lini SUV mereka. Contoh konkretnya adalah Chery TIGGO 8 CSH, yang menunjukkan efisiensi dengan asumsi penggunaan urban sekitar 40 km per hari atau 1.200 km per bulan dengan biaya operasional bulanan sekitar Rp506.000.
Rasio konsumsi energi yang menunjukkan penggunaan mode EV (electric vehicle) pada kecepatan rendah memperkuat klaim tersebut. Sistem Hybrid Transmission (DHT) CSH dengan efisiensi mekanis hingga 98,5% juga berperan dalam menjaga efisiensi. Sistem ini bekerja dengan mode listrik penuh saat kecepatan rendah, mode hybrid saat akselerasi atau beban tinggi, dan mode mesin saat cruising stabil, dengan perpindahan otomatis berdasarkan input berbagai faktor.
Pengguna Chery TIGGO 9 CSH berbagi pengalaman positif dalam perjalanan jarak jauh dengan biaya operasional yang efisien. Namun, tantangan terbesar terletak pada infrastruktur charging yang harus ditingkatkan agar efisiensi mobil hybrid dapat optimal. Meskipun klaim biaya Rp500 ribuan menarik, penggunaan kendaraan yang ideal di kondisi sehari-hari dapat mempengaruhi konsumsi energi secara signifikan.
Chery mencerminkan arah baru industri otomotif dengan fokus pada efisiensi biaya operasional, sejalan dengan kebutuhan konsumen yang semakin rasional. Dalam kondisi ekonomi yang tertekan, teknologi hybrid seperti CSH menawarkan keseimbangan antara efisiensi, fleksibilitas, dan kenyamanan. Tantangannya adalah seberapa konsisten efisiensi tersebut dapat dipertahankan dalam penggunaan sehari-hari di Indonesia.

