Pemerintah Indonesia tengah berupaya untuk meningkatkan ketahanan energi dalam negeri dengan mengurangi ketergantungan impor energi. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, upaya ini dilakukan dengan meningkatkan kapasitas kilang domestik dan melakukan pengembangan substitusi LPG melalui hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Meskipun Indonesia telah berhasil menghentikan impor solar, tantangan masih terdapat pada komoditas bensin dan LPG yang masih bergantung pada pasar global.
Pemerintah juga tengah mengupayakan penerapan campuran kelapa sawit sebesar 50 persen terhadap bahan bakar seperti solar mulai tahun 2025 untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) fosil. Langkah ini diharapkan dapat membantu Indonesia menghadapi ketidakpastian pasokan energi global. Selain itu, kebijakan penerapan B50 dijadwalkan akan diberlakukan mulai 1 Juli 2026 dengan harapan dapat menghemat subsidi senilai Rp48 triliun dan mengurangi penggunaan BBM fosil sebanyak 4 juta kiloliter dalam satu tahun.
Secara umum, pemerintah berkomitmen untuk menjaga pasokan energi di Indonesia agar tetap tersedia dan terjangkau bagi masyarakat. Meskipun masih terdapat ketergantungan pada impor energi, langkah-langkah strategis terus diperkuat untuk memastikan ketahanan energi dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor energi dan mewujudkan kedaulatan energi nasional yang berkelanjutan.

