Mengapa Deepfake Penting dalam Konflik Global?

Pusat Studi Cyber Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri, Yudho Giri Sucahyo, menyatakan bahwa teknologi kecerdasan buatan, terutama deepfake, memiliki peran krusial dalam konflik global saat ini. Menurutnya, perang modern tidak hanya terjadi secara fisik tetapi juga melalui perang informasi termasuk perang kognitif, siber, dan media. Yudho mengungkapkan bahwa deepfake dan teknologi lainnya digunakan untuk mempengaruhi emosi, persepsi, dan opini publik dengan konten manipulatif seperti video serangan palsu dan pidato palsu sebagai alat propaganda yang efektif.

Ia menyoroti peningkatan penggunaan deepfake dalam video di media sosial, meski belum sebesar disinformasi klasik seperti gambar dan teks yang diedit. Yudho menekankan bahwa penggunaan deepfake dalam situasi konflik sangat berbahaya karena dapat mempengaruhi opini publik serta mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang diterima. Di Indonesia, kesadaran akan ancaman deepfake masih perlu ditingkatkan, terutama di kalangan pengguna baru media sosial dan lansia.

Yudho juga mengingatkan pentingnya kritisisme masyarakat terhadap konten digital, dengan cara memperhatikan tanda-tanda deepfake seperti ketidaksesuaian gerakan bibir dan suara. Namun, ia juga mengakui bahwa teknologi deepfake terus berkembang sehingga semakin sulit dideteksi. Untuk mencegah penyebaran disinformasi, Yudho mendorong literasi digital yang lebih baik, edukasi tentang pentingnya berpikir sebelum berbagi, serta peran aktif media dan pemerintah dalam menyediakan fakta yang terverifikasi.

Ia menegaskan bahwa masyarakat harus tetap skeptis dan melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi yang ditemui di internet. Kecepatan penyebaran konten deepfake menjadi tantangan nyata, dan untuk itu, edukasi dan fasilitas cek fakta menjadi kunci dalam melawan penyebaran disinformasi.

Source link

Hot Topics

Related Articles