Faktor dan Pencegahan Penyakit Malaria: Tips Penting

Malaria Masih Mengintai, Warga Diingatkan Tak Anggap Remeh Gejala Awal

Malaria belum bisa dianggap sebagai ancaman yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Di Indonesia, penyakit ini masih menjadi persoalan kesehatan yang serius, terutama karena banyak orang belum benar-benar memahami bagaimana penularannya, seperti apa gejalanya, dan kapan harus segera mencari pertolongan medis. Dokter Okupasi Rumah Sakit Siloam, Sri Haryati, menegaskan bahwa kewaspadaan masyarakat menjadi kunci untuk menekan kasus malaria sejak dini.

“Masyarakat perlu paham gejala dan cara pencegahan malaria. Kami harap semua orang dapat lebih waspada terhadap tanda-tanda awal penyakit ini serta menjaga pola hidup bersih dan sehat,” ujar Sri Haryati dalam peringatan Hari Malaria Sedunia di Helens Night Mart Yogyakarta.

Gejala yang Sering Disamakan dengan Penyakit Lain

Malaria adalah infeksi menular yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina. Salah satu alasan penyakit ini berbahaya adalah karena gejalanya kerap menyerupai demam berdarah atau infeksi lain, sehingga tidak jarang terlambat disadari. Tanda yang paling umum adalah demam disertai menggigil selama beberapa hari.

Selain itu, Sri menjelaskan bahwa penderita juga bisa mengalami sakit kepala, mual, muntah, kelelahan, dan keluhan lain yang membuat kondisi tubuh cepat menurun. Karena kemunculan gejalanya tidak selalu langsung terasa, masyarakat diminta tidak menyepelekan demam yang terjadi setelah berada di lingkungan rawan nyamuk.

Waktu Muncul Gejala dan Kelompok yang Lebih Rentan

Gejala malaria umumnya muncul dalam rentang 10 hari hingga 4 minggu setelah seseorang digigit nyamuk pembawa parasit. Meski begitu, ada pula kasus ketika tanda-tandanya sudah terlihat sekitar 7 hari setelah terinfeksi. Perbedaan waktu ini membuat malaria sulit dikenali jika seseorang tidak mengingat riwayat aktivitas atau paparan nyamuk sebelumnya.

Risiko terkena malaria juga tidak sama pada setiap orang. Ada tiga faktor utama yang disebut meningkatkan kerentanan, yakni usia, kondisi lingkungan, dan akses kesehatan. Anak-anak di bawah usia 5 tahun menjadi kelompok yang paling rentan. Di sisi lain, iklim tropis seperti di Indonesia memberi ruang bagi nyamuk malaria untuk berkembang biak dengan lebih mudah. Minimnya fasilitas kesehatan juga dapat memperbesar risiko karena penanganan menjadi terlambat atau tidak optimal.

Langkah Pencegahan yang Disarankan

Untuk mencegah penularan, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi tempat berkembang biak nyamuk. Aktivitas di dekat perairan pada malam hari sebaiknya dihindari, karena waktu tersebut menjadi salah satu momen nyamuk lebih aktif. Saat tidur, penggunaan kelambu dan obat anti nyamuk pada malam hari juga disarankan.

Di lingkungan perairan seperti kolam, upaya sederhana seperti menaburkan ikan pemakan jentik nyamuk bisa membantu menekan populasi nyamuk. Langkah-langkah ini memang terlihat kecil, tetapi sangat penting untuk memutus rantai penularan sejak dari sumbernya.

Dalam momentum Hari Malaria Sedunia, Holywings Group juga ikut terlibat melalui program CSR yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan. Andrew Susanto dari Holywings Group mengajak berbagai pihak untuk lebih peduli pada pencegahan penyakit dan menghadirkan layanan kesehatan yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

Hot Topics

Related Articles