Indonesia Tidak Bisa Bergantung Pada Kebaikan Negara Lain, Ungkap Dr. Teguh Santosa
Tantangan Kepemimpinan Nasional
Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute, menyampaikan bahwa Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan kebaikan negara lain dalam menjaga keamanan dan kepentingan nasional di tengah perubahan besar dalam sistem internasional. Hal ini disampaikan dalam sebuah workshop di Palembang, Sumatera Selatan, yang dihadiri puluhan content creator pada Sabtu (16/5/2026).
Menurut Dr. Teguh, setiap era memiliki tantangan yang berbeda, sehingga kebijakan yang diambil pemimpin nasional tidak bisa dilakukan secara seragam. Ia menekankan pentingnya adaptasi dan inovasi dalam menghadapi dinamika geopolitik yang terus berubah.
Perbandingan Pemimpin Indonesia dari Era Berbeda
Dr. Teguh membandingkan gaya kepemimpinan empat tokoh Indonesia dari era yang berbeda, yakni Soekarno, Soeharto, B. J. Habibie, dan Presiden Prabowo Subianto. Masing-masing pemimpin di era mereka dihadapkan pada tantangan yang unik, mulai dari menjaga kemerdekaan politik hingga menghadapi runtuhnya sistem internasional yang melibatkan kekuatan besar.
Menurut Dr. Teguh, Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada jaminan keamanan dan ekonomi dari luar negeri. Hal ini menuntut adanya konsolidasi internal melalui penguatan ketahanan nasional di berbagai sektor. Pendekatan tersebut dikenal sebagai prinsip inclusive security, di mana Indonesia membangun kemampuan bertahan dari dalam negeri tanpa terlalu mengandalkan pihak luar.
Strategi Memperkuat Fondasi Bangsa
Dr. Teguh menyoroti pentingnya program-program seperti makan bergizi gratis, Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat, dan hilirisasi industri sebagai strategi untuk memperkuat fondasi bangsa. Program-program tersebut bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap negara lain.
Ia juga menekankan perlunya Indonesia meniru langkah Tiongkok dalam menjalankan industrialisasi yang besar-besaran guna mengurangi ketergantungan terhadap impor dan meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.
Dr. Teguh juga mengutip pemikiran dari ahli realisme politik seperti Hans Morgenthau dan Kenneth Waltz untuk memperkuat analisisnya. Morgenthau menekankan pentingnya negara mengutamakan kepentingan nasional dalam politik internasional, sementara Waltz menyoroti bahwa setiap negara harus dapat melakukan self-help dalam sistem internasional yang anarkis.
Di akhir paparannya, Dr. Teguh menekankan pentingnya para content creator memahami konteks geopolitik di balik kebijakan publik yang sedang dijalankan pemerintah. Mereka diharapkan mampu menciptakan narasi yang tidak hanya mengikuti arus, tetapi juga mampu menciptakan arus baru yang mendukung kepentingan bangsa.

