Membangun Literasi di Perbatasan Kalimantan Utara
Membangun budaya literasi di tengah hiruk pikuk kota besar tidaklah mudah, apalagi di wilayah perbatasan seperti Kalimantan Utara. Inilah yang mendorong komunitas Baca Bareng Silent Book Club Jakarta dan INOVASI untuk menggelar diskusi publik tentang literasi di Kabupaten Malinau.
Suara dari Garda Depan Literasi
Pada diskusi yang digelar di Jakarta, tiga sosok inspiratif dari Kabupaten Malinau membagikan pengalaman mereka membangun literasi. Salah satunya adalah Yeyen Meiasim, Kepala Desa Kuala Lapang, yang sejak lama mengabdikan diri pada dunia pendidikan.
Ia mendirikan Taman Bacaan Masyarakat Cerdas Ceria sebagai respons terhadap pandemi Covid-19 yang memaksa sekolah tutup. Langkah Yeyen memperlihatkan komitmennya dalam membangun manusia terlebih dahulu untuk kemajuan suatu wilayah.
Dari Bidan Hingga Guru: Semangat Membaca Tak Kenal Profesi
Belvi, seorang bidan di Puskesmas, turut aktif dalam meningkatkan literasi anak-anak di Kabupaten Malinau. Melalui Ikatan Keluarga Baca Malinau, ia membuka TBM Pelita Kanaan untuk mengajak anak-anak lebih akrab dengan buku, huruf, dan kata. Perjuangan Belvi bahkan mendorongnya menembus hutan demi anak-anak terpencil.
Sementara Zsa Zsa Suhartiningtyas, seorang guru IPA di Malinau, membawa literasi ke luar ruang kelas melalui TBM Lasan Baca di Desa Punan Gong Solok. Baginya, literasi merupakan kunci mencintai ilmu pengetahuan, dan ia berkomitmen untuk melibatkan semua anak dalam proses tersebut.
Kolaborasi Komunitas Lokal untuk Literasi Berkelanjutan
Kisah para pejuang literasi di Malinau menandai pentingnya kolaborasi lintas profesi. Mereka membuktikan bahwa gerakan literasi yang berkelanjutan harus tumbuh dari inisiatif komunitas itu sendiri, bukan hanya dari instruksi atas.
Manajer Komunikasi INOVASI, Erix Hutasoit, menambahkan pentingnya dukungan dan keterlibatan publik dalam mendukung gerakan literasi seperti yang terjadi di Kalimantan Utara. Melalui upaya bersama, diharapkan semakin banyak orang dapat terhubung dengan gerakan literasi yang berakar dari komunitas lokal.

