Lupus, Penyakit Autoimun yang Kerap Terlambat Terdeteksi
Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronis yang menyerang organ tubuh akibat gangguan sistem kekebalan. Penyakit ini dikenal dengan julukan “penyakit seribu wajah” karena gejalanya bervariasi dan tidak spesifik. Dokter spesialis Reumatologi, Sandra Sinthya Langow, menjelaskan bahwa gejala lupus bisa mulai muncul secara perlahan atau dengan tiba-tiba, sering kali menyebabkan keterlambatan diagnosis.
Gejala Lupus Sering Disamarkan Sebagai Penyakit Lain
Masalah utama dalam diagnosis lupus adalah gejala yang sering disamarkan sebagai penyakit biasa. Misalnya, nyeri sendi dianggap sebagai asam urat, kelelahan ekstrem dianggap sebagai kelelahan biasa, dan ruam kulit dianggap sebagai alergi. Karena kesamaannya dengan penyakit umum lainnya, lupus sering tidak terdeteksi dengan cepat. Hal ini diperparah dengan angka kematian pasien lupus yang cukup tinggi di Indonesia, yaitu 8,1 persen dari 1,4 juta penderita yang diperkirakan ada.
Peran Faktor Hormonal dan Lingkungan dalam Lupus
Dokter Sandra juga menyebutkan bahwa sekitar 90 persen penderita lupus adalah perempuan, terutama pada rentang usia 15 hingga 44 tahun. Faktor hormonal diyakini berperan dalam tingginya kasus lupus pada wanita. Selain itu, faktor lingkungan seperti paparan sinar matahari berlebihan, polusi udara, dan kebiasaan merokok juga dapat memicu perkembangan lupus.
Salah satu gejala yang sering dirasakan oleh penderita lupus adalah kelelahan yang berlebihan meskipun sudah istirahat cukup. Faktor ini seringkali tidak dipahami oleh orang di sekitar penderita. Gejala lain yang perlu diwaspadai antara lain rambut rontok, sariawan berulang, nyeri sendi kronis, ruam kemerahan di wajah, dan demam tanpa sebab jelas.
Pemeriksaan ANA Penting dalam Menegakkan Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis lupus, pemeriksaan laboratorium seperti Antinuclear Antibody (ANA) diperlukan. Diagnosis dini memungkinkan penanganan yang lebih efektif untuk mencegah kerusakan organ. Seiring dengan perkembangan terapi inovatif, penderita lupus kini memiliki harapan untuk hidup produktif dan berkualitas meskipun harus menjalani perawatan jangka panjang.

