BI Tingkatkan Intervensi di Tengah Naiknya Nilai Tukar

Bank Indonesia Tingkatkan Intervensi di Pasar Valas dengan Intensitas Lebih Tinggi

Bank Indonesia (BI) terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya. Pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlanjut hingga ke level Rp18.000-an per dolar AS membuat BI memperkuat langkah intervensinya.

Perkuat Struktur Suku Bunga dan Aliran Modal

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa bank sentral juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Tensi Geopolitik dan Kebutuhan Valas

Pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh tensi geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan harga minyak tetap tinggi. Hal ini meningkatkan risiko inflasi global dan arus dana keluar dari negara emerging. Selain itu, kebutuhan valas di domestik meningkat akibat pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.

BI memastikan cadangan devisa terjaga pada level 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026. Upaya diversifikasi transaksi perdagangan dilakukan melalui skema local currency transaction (LCT) dengan beberapa negara seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Destry menyampaikan bahwa kerja sama melalui skema LCT terus meningkat dengan transaksi mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS di bulan April. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar rupiah.

Source link

Hot Topics

Related Articles