Prospek Fiskal Indonesia Menguat, Rupiahpun Ikut Melaju

Rupiah Menguat dengan Membaiknya Prospek Fiskal Indonesia

Pagi ini, nilai tukar rupiah mengalami kenaikan sebesar 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.941 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp17.944 per dolar AS. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa penguatan rupiah ini terjadi seiring dengan meredanya kekhawatiran terhadap prospek fiskal Indonesia.

Menurut Pardede, penyesuaian harga BBM Pertamax yang dilakukan pemerintah serta pelemahan harga minyak global merupakan faktor yang turut mengurangi tekanan terhadap keseimbangan fiskal di Indonesia. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa defisit fiskal akan lebih terkendali, memberikan dukungan bagi rupiah dan pasar obligasi domestik.

Sentimen Global dan Inflasi AS

Di sisi global, inflasi umum di Amerika Serikat meningkat menjadi 4,2 persen year on year (yoy) pada Mei 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga energi sebesar 23,5 persen yoy di tengah ketegangan di Timur Tengah. Meskipun begitu, secara bulanan, inflasi umum melambat menjadi 0,5 persen month on month (mom).

Inflasi inti juga mengalami kenaikan tipis menjadi 2,9 persen yoy, namun pada basis bulanan justru mengalami penurunan menjadi 0,2 persen mom. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi tidak sebesar yang dikhawatirkan sebelumnya.

Prospek Rupiah ke Depan

Berdasarkan faktor-faktor ini, diperkirakan bahwa rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS. Investor sedikit mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed tahun ini meskipun kenaikan suku bunga pada Desember 2026 masih diestimasikan sebesar 25 basis points.

Source link

Hot Topics

Related Articles