Analisis terbaru dari Pengamat Intelijen, Pertahanan, dan Keamanan, Ngasiman Djoyonegoro, menunjukkan bahwa situasi di Papua semakin memanas. Menurutnya, kondisi saat ini bukan lagi hanya isu Hak Asasi Manusia, tetapi telah mencapai tingkat perang melawan separatis.
Djoyonegoro, yang lebih dikenal dengan nama panggilan Simon, mengungkapkan bahwa kelompok separatis di Papua telah menggunakan senjata perang, taktik, strategi, dan infrastruktur perang. Mereka bahkan melakukan pemetaan detail terhadap pergerakan untuk melancarkan serangan dan eksekusi pembunuhan terhadap institusi pertahanan negara.
Simon juga menegaskan bahwa kelompok separatisme ini diperkirakan didukung oleh agenda asing. Dia menyatakan bahwa mereka yang mengklaim peristiwa di Papua sebagai pelanggaran HAM sebenarnya turut serta dalam kekerasan dengan menggunakan senjata dan strategi perang.
Dalam menghadapi situasi ini, Simon menekankan pentingnya sinergi antara TNI, Polri, intelijen, dan pemerintah daerah. Dia menyarankan agar TNI dan Polri bekerja sama lebih erat dan menetapkan prosedur operasi seperti dalam situasi perang. Simon juga menekankan perlunya peningkatan sinergi antara kedua institusi tersebut melalui penguatan Tupoksi masing-masing.
Selain itu, Simon mengingatkan bahwa peningkatan kualitas SDM, infrastruktur, dan strategi operasi lapangan oleh TNI juga sangat penting. Dia menekankan bahwa Papua memiliki kondisi geografis yang khas, sehingga persiapan yang matang dan sinergi antara TNI, Polri, dan intelijen di lapangan diperlukan untuk meningkatkan efektivitas operasi.
Dengan demikian, tanggapan yang serius dari pihak TNI, Polri, intelijen, dan pemerintah daerah diharapkan dapat mengendalikan situasi di Papua dan mencegah eskalasi konflik yang lebih besar. Sumber: rmol.id

