Kimia Farma Menyusutkan Kerugian 11%, Capai Rp126,44 Miliar

PT Kimia Farma Tbk berhasil memangkas kerugian perusahaan sebanyak 11 persen selama tiga bulan pertama tahun 2025 menjadi Rp126,44 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, menjelaskan bahwa perusahaan berhasil menurunkan persentase beban pokok penjualan (COGS) serta beban usaha secara signifikan. Pada kuartal pertama tahun 2025, COGS berhasil diturunkan sebesar 2 persen menjadi Rp1,43 triliun, sedangkan beban usaha turun sebesar 11 persen menjadi Rp763,26 miliar.

Kimia Farma terus berkomitmen untuk melakukan transformasi bisnis, fokus pada efisiensi, dan inovasi guna meningkatkan kinerja keuangan. Perusahaan telah berkolaborasi dengan RSCM dan peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia untuk mengembangkan stem cell dalam pengobatan. Selain itu, inovasi obat pereda nyeri seperti injeksi Fentakaf juga telah diperkenalkan sebagai langkah untuk memperkuat kemandirian kesehatan nasional.

Djagad menyatakan bahwa langkah efisiensi dan inovasi yang terus dilakukan merupakan antisipasi terhadap tantangan eksternal dan internal di industri farmasi. Kimia Farma berfokus pada penguatan fundamental bisnis, termasuk segmen manufaktur, distribusi, ritel farmasi, dan layanan kesehatan. Perusahaan yakin dapat menjaga pertumbuhan kinerja sejalan dengan pertumbuhan pasar farmasi nasional yang masih positif.

Dalam menghadapi dinamika industri yang terus berkembang, Kimia Farma menjalankan transformasi menyeluruh di seluruh lini bisnis. Transformasi ini mencakup aspek penting seperti ketahanan modal kerja, penguatan SDM, digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, perbaikan tata kelola perusahaan, dan sinergi antar entitas dalam grup. Semua upaya ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan secara berkelanjutan dan mendukung pertumbuhan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Source link

Hot Topics

Related Articles