Penyelidikan Medan Listrik Terkait Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Jakarta – Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) akan mendalami hubungan antara berhentinya mesin taksi Green SM dengan perlintasan rel kereta yang dilaporkan bermuatan listrik terkait kasus kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto mengungkapkan bahwa perlintasan rel sebidang kereta api yang mengalami gangguan sistem listrik bisa menjadi sangat berbahaya. Mesin taksi listrik yang berhenti di atas rel dapat menghadapi medan magnet dan listrik yang dapat berdampak fatal. Oleh karena itu, Puslabfor akan melakukan investigasi lebih lanjut terkait hal ini.
Penyelidikan Mendalam dari Puslabfor
Budi menjelaskan bahwa mesin taksi listrik tersebut berubah menjadi posisi parkir saat berhenti di atas rel, dan hal ini perlu diteliti lebih lanjut apakah medan listrik dan magnet memiliki pengaruh terhadap kerusakan mesin tersebut. Sopir taksi listrik yang terlibat dalam kecelakaan dinyatakan negatif mengonsumsi alkohol melalui tes urine, dan saat ini statusnya masih sebagai saksi dalam kasus tersebut. Meskipun demikian, Polda Metro Jaya terus melakukan pemeriksaan terhadap sopir tersebut guna mendalami penyebab kecelakaan maut yang merenggut nyawa 16 penumpang.
Sebelumnya, diketahui bahwa sopir taksi Green SM yang terlibat dalam kecelakaan dengan kereta api di perlintasan sebidang Ampera, Bekasi Timur, baru bekerja pada hari ketiga insiden terjadi. Berdasarkan keterangan yang didapat, sopir tersebut hanya menjalani pelatihan singkat selama satu hari sebelum mulai bekerja. Pelatihan tersebut hanya sebatas pengenalan fitur dasar dari mobil listrik yang dikendarainya. Polda Metro Jaya terus melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden tragis ini.
Kecelakaan yang terjadi pada Senin (27/4) malam menyebabkan 16 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Insiden tersebut dipicu oleh mogoknya taksi Green SM di tengah perlintasan rel akibat gangguan sistem kelistrikan. Mobil tersebut kemudian bertabrakan dengan Kereta Rel Listrik (KRL) yang sedang melintas di area tersebut. Akibat kecelakaan pertama, satu rangkaian KRL terpaksa berhenti darurat di Stasiun Bekasi Timur dan ditabrak dari belakang oleh Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek.

