JAKARTA – Ketua Komisi XI DPR RI, Muhammad Misbakhun, menegaskan bahwa pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai masyarakat desa yang tidak menggunakan Dolar AS tidak boleh diinterpretasikan secara harfiah. Hal ini disampaikan Misbakhun dalam suasana yang tenang di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
Pesan untuk Menjaga Ketenangan Publik
Misbakhun menekankan bahwa ucapan Presiden tidak bermaksud meremehkan dampak pelemahan nilai tukar Dolar terhadap masyarakat. Sebaliknya, pesan tersebut merupakan upaya untuk menjaga ketenangan masyarakat agar tidak terjebak dalam situasi panik di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
“Apa yang disampaikan oleh Pak Presiden itu adalah upaya untuk menenangkan masyarakat. Jangan dibaca terlalu eksplisit,” ujar Misbakhun.
Ia menjelaskan bahwa pesan Presiden harus dipahami sebagai langkah untuk menjaga stabilitas psikologis masyarakat, terutama dalam situasi ketegangan global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Pesannya Adalah untuk Menjaga Optimisme
Menurut Misbakhun, Presiden menyadari betul bahwa pelemahan Dolar tetap akan berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun demikian, pernyataan Presiden tidak harus dilihat dari sisi teknis ekonomi semata. Lebih dari itu, pesan tersebut merupakan bentuk upaya politis untuk menjaga optimisme dan ketenangan masyarakat.
“Presiden menenangkan rakyatnya itu hal yang sangat wajar. Presiden menyejukkan hati rakyatnya, itu tugasnya Presiden,” tambah Misbakhun.
Sebelumnya, pelemahan nilai tukar rupiah telah menimbulkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang dan penurunan daya beli masyarakat. Meski demikian, Presiden Prabowo menegaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional masih dalam kondisi yang baik, terutama di sektor pangan dan energi yang dinilai tetap stabil.
“Rupiah begini, Rupiah begini, apa? Eh, Dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai Dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke,” tegas Prabowo untuk menenangkan masyarakat.

