Mengutip tulisan opini Broto Wardoyo, Pakar Hubungan Internasional Universitas Indonesia, tentang “Yasser Arafat dan Politik Mitos”, perjalanan hidup Arafat menyiratkan bahwa memori tentang dirinya terus diperebutkan di antara rumor, propaganda, dan misteri yang tidak pernah selesai. Dalam tulisan itu, Broto menyoroti adanya upaya sistematis untuk mendelegitimasi figur Arafat melalui serangan terhadap kehidupan pribadinya. Salah satu rumor yang dihembuskan berkaitan dengan orientasi seksual dan penyebab kematiannya yang diduga karena racun. Namun, di tengah berbagai rumor dan kontroversi tersebut, Arafat selalu membawa isu Palestina kembali pada persoalan identitas nasional dan eksistensi kolektif.
Arafat dan Lahirnya Nasionalisme Palestina Modern
Dalam sejarah politik Timur Tengah, Arafat menjadi personifikasi nasionalisme Palestina modern. Melalui Fatah dan kemudian Organisasi Pembebasan Palestina atau PLO, ia mengubah posisi bangsa Palestina dari komunitas pengungsi pasca-1948 menjadi aktor politik internasional yang diakui dunia.
Arafat membawa isu Palestina ke berbagai forum internasional. Di Liga Arab, Gerakan Non-Blok, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa, ia membingkai Palestina sebagai bagian dari perjuangan global melawan kolonialisme. Strategi itu membuat Palestina tidak hanya dibaca sebagai persoalan lokal Timur Tengah, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah panjang bangsa-bangsa yang menuntut hak menentukan nasib sendiri.
Kendati PLO mengalami kekalahan militer di Yordania dan Lebanon, posisi simbolik Arafat tetap bertahan. Kekalahan di medan perang tidak otomatis meruntuhkan wibawa politiknya. Justru dari kekalahan-kekalahan itu, Arafat membangun citra sebagai pemimpin yang terus kembali, bahkan ketika ruang geraknya semakin sempit.
Rubin dan Rubin menyebut Arafat sebagai salah satu figur politik paling penting, berpengaruh, sekaligus paradoksal di Timur Tengah modern. Ia mampu bertahan di tengah tekanan diplomatik, krisis internal, kekalahan militer, dan isolasi politik. Dalam banyak hal, Arafat tidak hanya memimpin Palestina. Ia menjadi wajah Palestina itu sendiri.
Karena itulah, Arafat tidak cukup dilawan secara militer. Ia juga harus dihancurkan secara moral, personal, dan simbolik. Reputasinya menjadi medan pertempuran. Kehidupan pribadinya ditarik ke ruang publik. Bahkan tubuhnya, hingga penyebab kematiannya, ikut menjadi bagian dari perebutan narasi politik.
Salah satu kontroversi yang pernah dihembuskan terhadap Arafat berkaitan dengan orientasi seksual dan dugaan penyakit yang disebut sebagai penyebab kematiannya. Dalam laporan Al Jazeera berjudul Myth Buster: Killing Arafat yang terbit pada 6 November 2013, rumor mengenai AIDS dan homoseksualitas Arafat disebut berasal dari mantan perwira intelijen Rumania yang terkait dengan jaringan konservatif kanan di Barat.
Namun, tuduhan itu tidak disertai bukti medis yang mendukung klaim bahwa Arafat mengidap HIV/AIDS. Penulis dan aktivis Israel, Uri Avnery, dalam artikel The Poisoning of Yasser Arafat yang terbit di Washington Report on Middle East Affairs pada September 2012, bahkan menyebut rumor tersebut sebagai bagian dari mesin propaganda Israel.
Memoar Bassam Abu Sharif, orang dekat di lingkaran Arafat, juga menolak tuduhan itu. Ia menggambarkan Arafat sebagai sosok yang menikmati keanggunan hidup dan mengagumi perempuan cantik. Dalam konteks ini, rumor mengenai kehidupan pribadi Arafat lebih tampak sebagai upaya mendelegitimasi figur politiknya dibandingkan sebagai fakta yang memiliki dasar kuat.
Kematian yang Membuka Ruang Spekulasi
Misteri terbesar tentang Arafat muncul pada fase terakhir hidupnya. Pada Oktober 2004, ia mendadak jatuh sakit dengan gejala gastrointestinal akut dan kegagalan organ yang tidak pernah dijelaskan secara memadai. Setelah meninggal di rumah sakit militer Percy, Prancis, tidak ada autopsi yang dilakukan.
Ketiadaan autopsi membuat kematian Arafat sejak awal membuka ruang spekulasi. Bertahun-tahun kemudian, investigasi forensik Swiss yang dipublikasikan dalam jurnal Forensic Science International menyimpulkan bahwa temuan mereka secara moderat mendukung kemungkinan Arafat diracun menggunakan Polonium-210.
Para peneliti menemukan kadar Polonium-210 abnormal pada sejumlah sampel biologis dan tulang Arafat. Namun, mereka juga mengakui bahwa penyebab kematian Arafat kemungkinan akan tetap menjadi kasus dingin yang tidak pernah benar-benar tuntas. Dengan kata lain, investigasi tersebut tidak mampu membuktikan secara definitif siapa pelakunya, tetapi cukup kuat untuk membuat dugaan keracunan terus hidup.
Kecurigaan mengenai pembunuhan Arafat sebenarnya sudah muncul sejak awal di lingkaran terdekatnya. Dalam memoarnya, Bassam Abu Sharif mengaku teringat pada kasus Wadi Haddad, tokoh PFLP yang diyakini diracun oleh Mossad, ketika melihat kondisi Arafat memburuk secara mendadak.
Menurut Abu Sharif, gejala yang dialami Arafat terlalu ganjil untuk dianggap sebagai penyakit biasa. Kecurigaan itu tidak lahir dari ruang kosong. Selama puluhan tahun, Arafat hidup dalam dunia yang dipenuhi operasi intelijen, infiltrasi, pengepungan, dan politik pembunuhan.
Arafat pernah melewati perang saudara di Yordania, invasi Israel ke Lebanon, pengepungan Beirut, hingga isolasi panjang di Ramallah. Dalam lanskap politik Timur Tengah yang keras, dugaan bahwa seorang pemimpin revolusioner dapat diracun bukanlah sesuatu yang mudah dianggap mustahil.
Di tengah seluruh rumor dan kontroversi itu, Arafat tetap membawa isu Palestina kembali pada persoalan identitas nasional. Ia menegaskan bahwa Palestina berhasil dipulihkan bukan hanya dalam ingatan, tetapi juga melalui institusi-institusi yang dihimpun dalam kerangka PLO.
Pernyataan tersebut penting karena menunjukkan cara Arafat memahami perjuangan Palestina. Baginya, perjuangan itu tidak semata soal wilayah. Ia juga menyangkut memori, identitas, dan keberadaan politik sebuah bangsa yang tercerai-berai akibat perang, pendudukan, dan pengungsian.
Simbol yang Tidak Mudah Dipadamkan
Pertarungan mengenai siapa sebenarnya Yasser Arafat tidak pernah selesai. Misteri, mitos, propaganda, dan kerahasiaan terus melekat pada namanya. Tubuh, reputasi, seksualitas, hingga penyebab kematiannya menjadi objek perebutan narasi politik.
Bagi sebagian orang, Arafat adalah simbol perlawanan anti-kolonial dan wajah perjuangan kemerdekaan Palestina. Namun, bagi sebagian yang lain, ia dipandang sebagai oportunis politik yang membawa Palestina ke jalan buntu Perjanjian Oslo.
Di sinilah posisi Arafat menjadi penting dalam sejarah modern Timur Tengah. Ia terlalu besar untuk direduksi hanya sebagai “teroris”, sebagaimana kerap digambarkan dalam propaganda Israel dan Barat. Namun, ia juga terlalu kompleks untuk ditempatkan sebagai figur suci tanpa cela.
Kisah hidup Arafat menunjukkan bahwa politik tidak hanya bekerja melalui senjata, diplomasi, dan perjanjian. Politik juga bekerja melalui ingatan, rumor, citra, dan mitos. Seorang pemimpin dapat dikalahkan secara militer, tetapi simbol yang ia wakili belum tentu ikut mati.
Dalam konteks itulah, perdebatan tentang Yasser Arafat dan politik mitos tidak hanya berbicara tentang masa lalu seorang tokoh. Ia juga membuka kembali pertanyaan yang lebih besar tentang nasib Palestina, tentang identitas nasional yang terus dipertahankan, dan tentang konflik yang belum menemukan ujungnya.
Sampai hari ini, isu Palestina masih hadir dalam berbagai bentuk kekerasan, penahanan, pengungsian, dan protes warga. Salah satu jejak persoalan itu terlihat dalam protes warga Palestina di Gaza terhadap perlakuan tahanan di penjara Israel, yang menunjukkan bahwa luka politik yang pernah diperjuangkan Arafat belum benar-benar tertutup.
Arafat telah lama wafat. Namun, mitos tentang tubuh, reputasi, dan kematiannya terus hidup karena simbol yang ia wakili belum padam. Selama persoalan Palestina belum selesai, nama Yasser Arafat akan terus kembali, bukan hanya sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai bayangan panjang dari sebuah bangsa yang masih menuntut pengakuan, keadilan, dan kemerdekaan.
Sumber rujukan: https://www.kompas.com/global/read/2026/06/03/115500170/yasser-arafat-dan-politik-mitos?page=all#page2

