Konsumsi Rumah Tangga di Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Dinamika Ekonomi Global
Jakarta – Konsumsi rumah tangga di Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi global dan kenaikan harga energi. Hal ini disebabkan oleh inflasi yang relatif terkendali serta kebijakan stimulus pemerintah yang mempertahankan subsidi energi.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, menyatakan bahwa keputusan pemerintah untuk mempertahankan subsidi energi di tengah lonjakan harga energi global telah memberikan dukungan bagi daya beli masyarakat. Inflasi yang mereda menjadi 2,88 persen YoY pada Juli 2026 juga turut memperkuat konsumsi rumah tangga.
Tanda Positif pada Pertumbuhan Beberapa Kelompok Belanja
Faisal juga menekankan bahwa ketahanan konsumsi terlihat dari pertumbuhan positif sejumlah kelompok belanja. Misalnya, belanja pakaian tumbuh 3,52 persen secara tahunan, sedangkan belanja transportasi dan komunikasi meningkat 5,71 persen YoY. Belanja restoran dan hotel juga mengalami pertumbuhan sebesar 6,47 persen YoY meskipun adanya perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pembiayaan dan Kewaspadaan Terhadap NPL
Sementara itu, dari sisi pembiayaan, Faisal menyebut bahwa pertumbuhan kredit masih menunjukkan kinerja positif. Kredit hingga Juni 2026 tumbuh 12,67 persen secara tahunan, didukung oleh peran bank-bank Himbara dalam menopang aktivitas ekonomi.
Namun, Faisal juga menyoroti perlunya penguatan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kewajiban keuangan. Data menunjukkan adanya tekanan terutama pada segmen rumah tangga kecil dan menengah, dengan tingkat Non-Performing Loan (NPL) yang cenderung meningkat.
Kondisi ini, menurut Faisal, menjadi sinyal penting untuk memperkuat fondasi daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok yang sedang menuju kelas menengah. Upaya menjaga stabilitas harga, memperkuat pendapatan masyarakat, dan memastikan akses pembiayaan tetap sehat menjadi krusial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan Pemerintah untuk Mendorong Aktivitas Ekonomi
Faisal juga menekankan pentingnya kebijakan pemerintah yang tidak hanya mendorong pertumbuhan melalui sektor publik, tetapi juga menciptakan ruang agar sektor swasta semakin aktif berinvestasi dan mengembangkan kegiatan ekonomi. Kebijakan pro-pertumbuhan yang mengikuti prinsip “crowding-in” diharapkan dapat meningkatkan investasi sektor swasta tanpa mengurangi ruang yang ada.

