Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menuai kritik terkait pernyataannya tentang ketahanan energi nasional. Para pengamat berpendapat bahwa optimisme pemerintah tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi sebenarnya dalam situasi pasar energi global yang bergejolak. Menurut pengamat politik Igor Dirgantara, pernyataan Bahlil yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki ketahanan energi kuat terkesan terlalu percaya diri dan kurang memperhitungkan dinamika global, terutama dalam konteks konflik geopolitik di Timur Tengah.
Igor menjelaskan bahwa agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta pembatasan akses di Selat Hormuz telah mengganggu distribusi energi global, termasuk pergerakan kapal tanker yang mengangkut minyak mentah untuk Indonesia. Hal ini menimbulkan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dari Timur Tengah, yang menjadi tantangan serius dalam menjaga stabilitas pasokan bahan bakar minyak.
Dibandingkan dengan negara Asia lain seperti Malaysia, Thailand, dan Pakistan yang telah memiliki akses melintasi Selat Hormuz, Indonesia terlihat lebih rentan karena bergantung pada impor energi dari kawasan tersebut. Igor juga mencatat bahwa sumber daya energi nasional Indonesia relatif terbatas, sementara negara-negara Asia lain semakin bersaing ketat mendapatkan energi.
Untuk menghadapi situasi ini, Igor menekankan perlunya langkah strategis yang realistis dan adaptif agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan energi kawasan, terutama di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat. Dalam konteks ini, penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan dengan serius kondisi pasar energi global dan menyesuaikan strategi energi nasional dengan dinamika geopolitik yang ada.

