Konflik di kawasan Timur Tengah melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran akan krisis energi global. Dampak pembatasan pergerakan kapal di Selat Hormuz telah terasa dengan terganggunya pasokan minyak dan lonjakan harga bahan bakar di beberapa negara. Di tengah situasi ini, sejumlah negara, termasuk Indonesia, mulai mempertimbangkan langkah-langkah efisiensi energi seperti work from home (WFH). Namun, kebutuhan akan sumber energi alternatif semakin mendesak.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah Bahan Bakar Original Buatan Indonesia (BOBIBOS), energi alternatif berbasis bioenergi yang dikembangkan dari jerami. BOBIBOS diklaim setara dengan bahan bakar RON 98 atau sekelas Pertamax Turbo, dengan keunggulan ramah lingkungan karena mampu mengurangi emisi hingga mendekati nol. Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Mulyadi, melihat potensi pengembangan BOBIBOS sebagai bagian penting dari roadmap transisi energi nasional berbasis bioenergi, dengan harga yang terjangkau dan kualitas yang kompetitif.
Penggunaan BOBIBOS dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak, sehingga memberikan kontribusi pada efisiensi anggaran negara dan pelestarian lingkungan. Selain itu, BOBIBOS diharapkan membuka lapangan kerja baru dan mendorong kemandirian energi nasional. Meskipun demikian, implementasi BOBIBOS di Indonesia masih dihadang oleh kendala regulasi yang belum memadai.
Sebagai pembina proyek tersebut, Mulyadi merencanakan peluncuran perdana BOBIBOS pada April 2026 di Timor Leste, dengan ekspansi pasar ke negara lain seperti Vietnam, Malaysia, dan Norwegia. Meskipun tantangan regulasi masih ada di dalam negeri, negara-negara sekitar telah menunjukkan komitmen dalam mendukung pengembangan energi alternatif ini.

