Pemerintah mempercepat perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke lingkungan pondok pesantren guna menutup kesenjangan distribusi manfaat yang selama ini dinilai masih tertinggal dibandingkan sekolah formal. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan pesantren harus menjadi prioritas dalam penguatan ketahanan pangan nasional. Hal tersebut disampaikannya saat meninjau Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, baru-baru ini. Menurutnya, meski implementasi program MBG telah berjalan, jangkauannya di pesantren masih terbatas. Karena itu, pemerintah berkomitmen mempercepat distribusi program tersebut ke berbagai pesantren di seluruh Indonesia.
Pemerintah memandang pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai basis penguatan ekonomi dan ketahanan pangan berbasis komunitas. Dalam konteks ini, percepatan program MBG dinilai menjadi langkah strategis di tengah ketidakpastian global. Setidaknya terdapat tiga alasan utama di balik percepatan tersebut. Pertama, pesantren dinilai memiliki kekuatan sosial berupa gotong royong yang dapat mendorong kemandirian pangan. Kedua, penguatan pangan di tingkat komunitas diyakini mampu menjaga stabilitas nasional dari gangguan rantai pasok global. Ketiga, upaya ini mendukung kedaulatan pangan dalam negeri dengan mengoptimalkan potensi lokal.
Zulkifli Hasan juga menekankan bahwa pemenuhan gizi santri merupakan bagian penting dari agenda kemanusiaan. Ia berharap pesantren tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan aktif dalam mendukung distribusi dan pengelolaan program. Pemerintah, lanjutnya, akan terus menambah kuota penerima manfaat di lingkungan pesantren secara bertahap. Dengan kolaborasi bersama ulama dan masyarakat, program MBG diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.

