Ekspor Papua Masih Bergantung pada Komoditas Kayu
Jayapura (ANTARA) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mengungkapkan bahwa struktur ekspor di Provinsi Papua pada Maret 2026 masih sangat bergantung pada komoditas nonmigas, terutama golongan kayu dan barang dari kayu (HS44) dengan nilai mencapai 3.151,11 ribu dolar AS atau sekitar Rp54,84 juta.
Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Papua, Emi Puspitarini, menyatakan bahwa sektor kayu masih menjadi kontributor terbesar dalam ekspor Papua, menunjukkan daya saing produk kehutanan di pasar global. Kontribusi ekspor nonmigas terhadap total ekspor Papua mencapai 99,98 persen, sementara sektor migas hanya mencapai 0,55 ribu dolar AS, jumlah yang sangat kecil dalam perdagangan luar negeri daerah.
Penurunan Nilai Ekspor
Total nilai ekspor Papua pada Maret 2026 tercatat sebesar 3.550,09 ribu dolar AS, mengalami penurunan sebesar 47,38 persen dibandingkan bulan Februari 2026 yang mencapai 6.747,27 ribu dolar AS. Dari sisi tujuan ekspor, terdapat tiga negara yang menjadi pasar utama ekspor Papua, yaitu Australia, Selandia Baru, dan Papua Nugini.
Australia menjadi pasar utama ekspor dengan nilai mencapai 2.457,90 ribu dolar AS atau sekitar 69,23 persen dari total ekspor Papua. Selandia Baru menerima ekspor sebesar 444,71 ribu dolar AS dan Papua Nugini sebesar 387,01 ribu dolar AS.
Infrastruktur Logistik
Emi juga menyebutkan bahwa sebagian besar aktivitas pemuatan ekspor di wilayah Papua dilakukan melalui Pelabuhan Jayapura, terutama untuk pengiriman ke negara tetangga. Namun, sebagian besar ekspor Papua dimuat melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan nilai pemuatan sebesar 3.162,18 ribu dolar AS, menunjukkan tingginya ketergantungan pada infrastruktur logistik di luar Papua.
Dalam periode Januari hingga Maret 2026, total nilai ekspor Papua mencapai 14.629,63 ribu dolar AS, mengalami penurunan sebesar 7,78 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.

