Paseban Foundation Siapkan Regenerasi Konservasi Megamendung Lintas Generasi

JakartaPaseban Foundation menyiapkan regenerasi untuk menjaga kesinambungan konservasi Bentang Alam Megamendung. Langkah ini dilakukan karena pemulihan ekosistem dinilai tidak mungkin selesai hanya dalam satu masa kepemimpinan atau satu generasi.

Pesan itu mengemuka dalam Paseban Foundation Annual Dinner 2026 yang digelar di Jakarta, Senin (10/8/2026). Acara berlangsung bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional sekaligus memperingati dua tahun berdirinya Paseban Foundation.

Pendiri dan Pembina Paseban Foundation, Andy Utama, mengatakan konservasi membutuhkan waktu panjang. Orang-orang yang memulai pekerjaan tersebut pada akhirnya akan berganti, sementara pemulihan alam harus terus berjalan.

“Pada akhirnya kita semua akan kembali. Karena itu, pekerjaan ini harus memiliki penerus. Konservasi membutuhkan endurance dan harus diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Andy.

Menurut Andy, persoalan regenerasi menjadi penting karena pemulihan sebuah bentang alam bisa berlangsung puluhan hingga ratusan tahun. Sementara masa kepemimpinan, program organisasi, dan pendanaan biasanya berjalan dalam periode yang jauh lebih singkat.

Konservasi Tak Bisa Bergantung pada Satu Figur

Andy mendirikan Paseban Foundation sebagai wadah kelembagaan agar kerja konservasi di kawasan Megamendung tidak berhenti ketika orang-orang yang memulainya tidak lagi aktif.

Yayasan itu kemudian mengembangkan Megamendung Century Initiative, sebuah visi pemulihan bentang alam dengan perspektif jangka panjang.

Program tersebut diarahkan untuk membawa kualitas ekologis Bentang Alam Megamendung sedekat mungkin dengan kondisi alaminya sekitar 100 hingga 200 tahun lalu.

Dengan rentang waktu sepanjang itu, konservasi tidak dapat diperlakukan sebagai program sesaat. Pekerjaan harus memiliki sistem yang memungkinkan pengetahuan, pengalaman, jaringan kerja, hingga tanggung jawab pengambilan keputusan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Upaya menjaga kawasan Megamendung juga mencakup perlindungan keanekaragaman hayati. Salah satu langkah yang telah dikembangkan adalah perlindungan satwa melalui Lembah Aviary Paseban, yang menjadi bagian dari pendekatan konservasi terhadap habitat dan satwa di kawasan tersebut.

Perlindungan satwa dinilai tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga tutupan vegetasi, sumber air, koridor ekologis, dan keseimbangan keseluruhan bentang alam.

Generasi Penerus Mulai Dilibatkan

Proses regenerasi mulai terlihat melalui keterlibatan Fifi, putri Andy Utama, dalam sejumlah kegiatan Paseban Foundation.

Namun, regenerasi yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan hubungan keluarga atau pergantian figur.

Bagi Paseban Foundation, regenerasi mencakup proses pemindahan pengetahuan, pengalaman lapangan, jejaring, pemahaman terhadap kawasan, serta kemampuan mengambil keputusan.

Generasi penerus juga perlu memahami bahwa konservasi bukan hanya soal menjaga hutan dan satwa.

Di dalamnya terdapat persoalan sosial, ekonomi, kehidupan masyarakat, tata kelola kawasan, hingga koordinasi dengan berbagai lembaga.

Pembahasan mengenai Paseban Foundation dan konservasi Megamendung lintas generasi juga menekankan pentingnya menyiapkan penerus sebelum terjadi pergantian kepemimpinan.

Dengan begitu, keberlanjutan program tidak bergantung pada satu orang ataupun satu periode kepengurusan.

Pemerintah Dorong Keterlibatan Anak Muda

Dalam acara tersebut, Kementerian Kehutanan yang diwakili Indra Exploitasia turut menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda.

Menurut dia, anak muda perlu mendapatkan ruang untuk belajar dan terlibat sebelum generasi yang lebih senior menyelesaikan masa tugasnya.

“Yang sudah senior ini sebentar lagi akan purnatugas. Karena itu, dibutuhkan generasi muda untuk mengambil alih tugas dan melanjutkan pekerjaan ini untuk masa depan,” katanya.

Regenerasi, lanjutnya, tidak dapat dilakukan secara mendadak.

Pengetahuan yang dibangun selama bertahun-tahun perlu dipindahkan melalui pengalaman langsung agar generasi berikutnya memahami tantangan konservasi di lapangan.

Paseban Foundation selama ini menggabungkan kegiatan lapangan dengan pendidikan, penelitian, dokumentasi, pengembangan pengetahuan, dan komunikasi publik.

Luncurkan Buku dan Film Dokumenter

Paseban Foundation juga menggunakan dokumentasi sebagai salah satu cara mewariskan pengetahuan.

Dalam Annual Dinner 2026, yayasan meluncurkan buku “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” serta “Kepemimpinan Bentang Alam” karya Wiratno, Dani W Munggoro, dan sejumlah penulis lainnya.

Acara itu juga menjadi momentum pemutaran perdana film dokumenter “The Silent Resilience”.

Film tersebut merekam perjalanan merawat Bentang Alam Megamendung sebagai bagian dari Cagar Biosfer Cibodas.

Dokumentasi dianggap penting karena pengetahuan mengenai konservasi tidak seluruhnya tersimpan dalam laporan penelitian.

Banyak pengalaman justru berasal dari orang-orang yang sehari-hari bekerja di lapangan dan melihat langsung perubahan hutan, sumber air, satwa liar, hingga kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Buku dan film kemudian menjadi sarana untuk membawa pengalaman tersebut kepada kelompok yang lebih luas sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi generasi berikutnya.

Ekonomi Jadi Bagian dari Keberlanjutan

Andy juga menyoroti persoalan ekonomi dalam konservasi. Menurut dia, menjaga alam membutuhkan keterlibatan banyak orang. Namun, orang-orang yang terlibat tetap membutuhkan sumber penghidupan. Karena itu, kegiatan ekonomi yang sejalan dengan prinsip perlindungan lingkungan perlu dikembangkan sebagai salah satu penopang konservasi.

Salah satu pendekatan yang dijalankan adalah pertanian organik. Aktivitas pertanian organik yang dijalankan Andy disebut telah melewati audit sertifikasi organik selama 13 tahun berturut-turut tanpa catatan ketidaksesuaian.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan konservasi tidak hanya bergantung pada kepemimpinan.

Ada kebutuhan untuk membangun sistem ekonomi yang dapat menopang kegiatan, melibatkan masyarakat, dan tetap mempertahankan fungsi ekologis kawasan.

Teknologi untuk Sebarkan Informasi Konservasi

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria turut menyinggung peran teknologi dalam konservasi.

Menurut Nezar, informasi dan data yang diperoleh dari lapangan perlu disebarluaskan agar tidak hanya menjadi pengetahuan internal sebuah organisasi.

Teknologi dapat digunakan untuk memperluas percakapan publik mengenai konservasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi lingkungan.

Meski demikian, penggunaan teknologi juga perlu mempertimbangkan jejak lingkungan yang ditimbulkannya.

Teknologi kemudian dapat ditempatkan sebagai alat untuk mendukung penelitian, dokumentasi, pendidikan, dan penyebaran informasi.

Menyiapkan Warisan untuk Generasi Berikutnya

Annual Dinner Paseban Foundation mempertemukan berbagai pihak yang memiliki keterkaitan dengan pengelolaan Bentang Alam Megamendung.

Namun, kolaborasi jangka panjang tidak hanya bergantung pada pertemuan. Keberlanjutan ditentukan oleh pembagian peran, konsistensi dukungan, transfer pengetahuan, kemampuan pembiayaan, dan komitmen menjaga tujuan bersama ketika terjadi pergantian kepemimpinan.

Andy menegaskan Paseban Foundation tidak dibangun agar seluruh kerja konservasi di Megamendung bergantung pada satu organisasi.

Yayasan tersebut diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, peneliti, pelaku usaha, generasi muda, dan berbagai pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap kawasan.

Hasil dari Megamendung Century Initiative bahkan mungkin baru dapat dirasakan secara penuh oleh generasi yang belum lahir ketika program tersebut dimulai.

Karena itu, warisan yang disiapkan bukan hanya hutan, habitat satwa, atau sumber air yang berhasil dipertahankan.

Warisan tersebut juga berupa pengetahuan, pengalaman lapangan, kelembagaan, jejaring kerja, serta generasi penerus yang bersedia melanjutkan konservasi Bentang Alam Megamendung.

Sumber : Paseban Foundation Siapkan Konservasi Megamendung Lintas Generasi

Hot Topics

Related Articles