Sudirman Said: Kritik Terhadap Kebijakan Energi RI

JurnalPatroliNews – Jakarta

Sudirman Said: Ketahanan Energi Indonesia Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menilai akar persoalan ketahanan energi Indonesia bukan semata karena gejolak harga minyak dunia, melainkan akibat pola pikir jangka pendek yang telah menjadi kebiasaan dalam pengambilan kebijakan.

Sudirman menyampaikan pandangannya dalam sebuah diskusi di kantor Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Jakarta Selatan, pada Kamis (30/4/2026).

“Tekanan pada energy security kita terus berlangsung karena tiga aspek fundamental. Yang pertama dan paling mendasar adalah shortterm-isme,” ujar Sudirman.

Pola Pikir Jangka Pendek dan Masalah Ketenagalistrikan

Selain pola pikir jangka pendek, Sudirman menyoroti masalah dominasi politik dan kebijakan populis yang terlalu besar dalam pengambilan keputusan strategis di sektor energi. Dia juga menekankan pentingnya menyelesaikan konflik kepentingan antara pengambil kebijakan dan pelaku usaha untuk meningkatkan tata kelola sektor energi nasional.

Konsekuensi dari Kebijakan yang Tidak Konsisten

Menurut Sudirman, konsekuensi dari tiga masalah tersebut adalah ketiadaan strategi jangka panjang dalam mengelola isu fundamental seperti energi. Hal ini menyebabkan pemerintah bersikap reaktif dan sering kali terjebak pada kebijakan-kebijakan yang tidak konsisten.

Sudirman juga menyoroti inkonsistensi dalam agenda transisi energi nasional, di mana dorongan untuk beralih ke energi baru dan terbarukan muncul hanya saat harga minyak dunia melonjak, namun meredup saat pasar energi stabil.

Kondisi ini membuat Indonesia selalu kembali pada pola lama tanpa perubahan mendasar, terutama dalam menghadapi dinamika pasar energi global yang semakin tidak pasti.

Krisis Pasokan Energi Global dan Ketergantungan Indonesia pada Impor Minyak

Sudirman mengutarakan kekhawatiran terhadap krisis pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah yang dapat berdampak pada harga, ketersediaan pasokan minyak, dan jalur distribusi logistik global. Ia menyoroti risiko besar yang dihadapi Indonesia karena tingginya ketergantungan pada impor minyak.

Saat ini, konsumsi bahan bakar minyak nasional mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya mencapai 600 hingga 610 ribu barel per hari. Hal ini menjadikan Indonesia harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari, yang memberikan tekanan besar pada stabilitas ekonomi nasional.

Impor minyak juga berpotensi menekan kurs rupiah karena membutuhkan belanja valas harian hingga 100 juta dolar AS. Sudirman menyimpulkan bahwa Indonesia perlu menghadapi tantangan ketahanan energi secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Source link

Hot Topics

Related Articles